Showing posts with label Curhat Sesat. Show all posts
Showing posts with label Curhat Sesat. Show all posts

Friday, July 1, 2016

// // Leave a Comment

Gue Pernah Dipukul Guru

"MAU JADI APA KALIAN?!" Teriak Pak Slamet, guru berbadan tegap dan suara menggelegar itu kepada kami, 6 siswa STM yang ketauan judi kartu di WC sekolah.

Kami semua terdiam, badan bergetar, keringat menetes-netes. Pak Slamet kembali berteriak, "TARUH TANGAN KALIAN DI MEJA SAYA! SEKARANG!"

Kami hanya bisa mengikuti perintah beliau. Kami takut, kalo kami nggak nurut, Pak Slamet berubah jadi Megatron. Kami pun meletakkan tangan kami di meja guru kelas secara sejajar dengan perasaan was-was. Semua anak-anak di kelas baca Surat Yasin secara berjamaah.

Pak Slamet kemudian mengambil sebuah penggaris kayu sepanjang satu meter yang biasa dipakai untuk mengajar. Tak memberi aba-aba, beliau langsung memukulkan kayu itu ke tangan kami yang tergeletak di meja itu. Kami berteriak kesakitan dan memohon ampun. Singkat cerita, pulang sekolah, gue dan 5 teman lain kesulitan untuk naik sepeda motor karena jari tangan kami memar semua.


Kejadian seperti di atas, bukanlah hal yang asing lagi buat gue. Hukuman fisik seperti lari keliling lapangan, push up, dan dicukur pake pisau sama guru ampe pitak-pitak kayak anjing jamuran pun udah pernah gue alamin. Memang, gue ada sebalnya juga kalo abis kena hukum. Pengin rasanya ngebales kelakuan guru itu. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, gue juga nggak bakal dihukum kalo gue nggak salah. Ya kali, gue lagi enak-enak boker di toilet sekolah, tau-tau disuruh push-up, ntar berceceran dong.

Zaman muda, saat darah masih bergelora, gue kadang pengin ngadu ke orang tua. Tapi jangankan nyamperin guru yang ngehukum gue, ortu gue aja nggak pernah ngambilin rapor gue. Jadi, gue pikir keputusan itu nggak bakal berpengaruh.

Nah, abis kejadian jari digebuk pake mistar kayu itu, Supri, salah satu temen gue judi, ngaduin ke ortunya. Dia berharap agar ortunya datang ke sekolah, lalu memarahi guru yang melukainya. Gue tau, karena waktu dia ngaduin ke ortunya, persis pasca kejadian, gue lagi mampir di rumahnya.

"Loh? Tanganmu ngopo?" Tanya Bokap Supri.

"Anu Pak.. Tadi digebuk pak guru, kejam banget dia Pak.. Suka semena-mena sama murid." Jawab Supri provokatif.

Bokap Supri mengecek tangan anaknya, "Wah?! Ampe biru gini.. Digebuk atau diinjak?"

"Digebuk pake mistar kayu, Pak.. Kejam banget to?" Supri menjawab dengan nada memelas.

"Lha kok bisa? Kamu salah apa?" Bokap Supri kaget mendengar anaknya dianiaya.

"Nganu Pak.. Ketauan judi di sekolah."

"...."

Bokap Supri menghela nafas sebentar, lalu, "PLAK!"

Terdengar suara tamparan nan perih yang mendarat di pipi Supri. "LHA KOK TADI CUMA DIGEBUK PAKE MISTAR KAYU? KAMU DIGILES PAKE MOBIL JUGA BAPAK TERIMA!"

Bokap Supri mendadak jadi bengis. Dia berdiri, dan kembali memukuli Supri. "BIKIN MALU! UDAH BISA NYARI DUIT SENDIRI KAMU?! DUIT YANG KAMU MAKAN TIAP HARI ITU MASIH HASIL KERINGATKU! SEMENA-MENA!" "PLAK! PLAK! PLAK!"

Suasana semakin awkward, gue sembunyiin tangan gue yang juga membiru, lalu buru-buru pamit pulang.

Iya, itulah cerminan pendidikan yang gue dapat waktu itu. Guru killer, selalu gue temui sejak zaman SD, SMP, STM, dan bahkan, kuliah pun gue ketemu dosen killer. Tapi apakah guru-guru semacam itu membuat gue membenci figur pendidik? Tidak sama sekali. Bahkan sampe sekarang gue masih respect sama mereka berkat segala ilmu yang diberikannya.

Momen itu gue sadari waktu gue perpisahan zaman STM. Waktu itu sudah waktunya kami bersalaman dengan para guru. Pak Slamet memeluk gue, sambil... nangis. Iya, dia nangis sambil meminta maaf atas segala hukuman yang pernah dia lakukan kepada gue. Waktu itu gue ikut nangis, dan minta maaf karena sudah membuat beliau terpaksa menyakiti gue gara-gara kenakalan gue. Tangannya yang harusnya digunakan untuk mendidik, jadi digunakan untuk menghajar gara-gara kenakalan gue yang nggak wajar. Gue yakin, setelah ngehukum gue, sebagai pendidik, beliau juga guilty karena profesinya jadi ternodai. Itulah salah satu wujud dari cinta, diikuti penyesalan setiap kali orang yang dicintai tersakiti.

Sejak saat itu, gue jadi nyadar bahwa kita sebenarnya nggak takut kepada guru killer. Kita hanya takut kepada ketidakdisiplinan diri kita sendiri di sekolah. Kalo kita tidak melanggar peraturan apapun, ya kita nggak akan dihukum. Guru nggak akan punya alasan untuk menghukum kita. Segalak apapun dia.

Ditambah lagi, saat semester akhir kuliah gue, karena gue kuliah di FKIP, gue ada PPL. Di mana, gue harus ngajar di sebuah SMK selama beberapa bulan. Di SMK itu, murid gue bandel-bandel. Bahkan, gue pernah ngalamin pas pulang ngajar, motor gue digembosin murid cuma gara-gara dia dapet nilai jelek pas test. Gue jadi ngerti gimana rasanya jadi guru yang punya murid bengal.

Jadi, dari pengalaman masa lalu, buat gue, hukuman fisik (cubit, sit-up, push-up) di sekolah itu masih wajar dilakukan oleh guru, untuk anak yang sudah mulai remaja. Itu pun kalo si anak keterlaluan kelakuannya. Untuk bocah yang masih TK atau SD, kalo bisa cukup teguran halus secara lisan saja, biar gak trauma atau malah takut bersekolah. Hukuman fisik bagi remaja, menurut gue boleh, asal tidak berlebihan, dan tidak memakai kata-kata kotor sebagai makian. Karena luka fisik bisa sembuh sendiri, tapi luka hati kadang kebawa mati. Gue tau, ada juga anak yang tumbuh bersama orang tua, dan tak pernah merasakan hukuman fisik dari ortunya. Jadi, ketika bertemu dengan guru yang memberi hukuman fisik, mereka bisa trauma.

Tapi, sepengalaman gue, gue BELUM PERNAH nemu guru yang ngegampar, apabila kesalahan yang dilakukan murid tidak fatal. Kalo cuma karena lupa ngerjain PR, biasanya ya hukumannya cuma disuruh lari keliling lapangan. Biasanya, murid yang digampar itu ya level kurang ajarnya udah nggak wajar. 

Untuk orang tua, sudah sepantasnya saat menitipkan anak di sekolah, artinya sudah memindahkan tugas mendidik anak selama di sekolah kepada guru. Apabila tidak mau gurunya mendidik anaknya dengan caranya, ya sekolahkan secara private saja. Di mana selalu bisa diawasi cara mendidiknya. Atau, setidaknya ciptakan perjanjian dulu antara ortu dan guru, hal-hal apa saja yang tak boleh dilakukan kepada si anak. Orang tua berhak protes kepada sekolah, apabila hukuman yang diterima si murid sudah tidak wajar. Misal, digampar sampe ompong, atau dipukul hingga hidung patah, nah, itu sudah masuk pasal penganiayaan. 

Jadi, buat gue kalo cubitan, sentilan, atau lari di lapangan, itu hukuman yang masih wajar dilakukan guru kepada murid, di zaman gue. Kadang, anak-anak harus mengerti bahwa hidup itu keras. Jadi, mendidik jangan selalu lembek. Baru dicubit aja udah ngadu orang tua, apa kabar nanti kalo ditinggalkan kekasih saat sedang cinta-cintanya? Tapi guru juga jangan lupa, kalo berani ngasih punishment, mereka juga harus bisa ngasih reward kepada murid-murid yang baik. Sehingga hal itu bisa jadi motivasi, bukan rajin belajar cuma karena ditakut-takuti. Mendidik memang tak harus keras, tapi harus tegas. Tegas dalam menghadapi kesalahan murid, dan juga tegas menghargai usaha keras murid.

Tapi semua yang gue sebutin di atas kan "buat gue", atau mungkin buat anak-anak generasi gue, di mana gue lahir, tumbuh di zaman yang berbeda. Cara bergaul gue dulu dan anak-anak sekarang udah beda. Jadinya, kualitas mental dan psikologis pun beda. Untuk anak-anak zaman sekarang, akan lebih baik lagi kalo mereka mendapatkan sistem pendidikan yang tanpa kekerasan. Misal, memberlakukan sistem poin di sekolah. Jadi, setiap pelanggaran yang dilakukan murid, akan berbuah poin. Besarnya poin juga diatur sesuai dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan. Di mana, poin-poin itu berpengaruh dalam proses kenaikan kelas si murid. Hal seperti itu wajib disosialisasikan ke ortu murid saat daftar ulang. Sehingga ortu juga bisa ikut mengawasi sistem ini dan mengingatkan anak-anak mereka. Di zaman ini, tindakan kekerasan fisik sudah tidak relevan. Gue gak kebayang aja, kalo kelak anak-anak yang gue sayang, jaga, dan besarkan, disakiti orang saat mereka jauh dari orang tuanya. It's sad.

Bagaimanapun juga, menghasilkan generasi baru yang lebih baik, adalah kewajiban bagi ortu maupun guru. Jadi, lebih baik guru dan ortu selalu bekerjasama. Tidak asal menyerahkan tanggungjawabnya. 

Oke.. This is the end of this post. Gue cuma mau berbagi opini gue tentang guru killer yang menghukum murid. Semoga bisa menambah sudut pandang baru dalam melihat masalah ini. Thanks for reading!

Oiyah.. Lo pernah dihukum guru di sekolah? Dihukum apa? Jangan lupa share ceritanya di kolom komen, ya! :D
Read More

Sunday, June 19, 2016

// // Leave a Comment

Youtube Lebih dari TV?

As a man who has been living long enough to see the evolution of social life.. Halah... Gak perlu pake bahasa Inggris. Gak nambah ganteng juga.

Jadi gini, kemarin gue kaget liat keponakan, masih TK, tiba-tiba nyeletuk, "I don't give a f*ck, Bi*ch!", sebagai seorang Om yang budiman, gue shock mendengar kalimat itu keluar dari bibir bocah yang makan bubur aja kadang ngunyahnya belum halus. Gue pun nasihatin dia,

"Dek.. Gak boleh ngomong gitu. Gak baik." Ucap gue sambil mengelus kepalanya pake tongkat baseball.

Lalu dia melompat-lompat sambil menjawab, "I d*nt give a f*ck, bi*ch! I don't-I don't give a f*ck! Boom!"



Sesaat kemudian tongkat baseball yang tadi gue pegang retak, dan kepala tuh bocah keluar darah.

Becanda ding...

Yep.. Seperti yang gue pelajari, gak ada anak nakal, yang ada adalah anak yang meniru. Begitu juga dengan keponakan gue itu. Dia tidak berniat untuk berbuat hal yang tidak baik di mata kita. Dia hanya meniru hal-hal menarik dan keren di matanya. Dan benar saja, ternyata dia meniru apa yang sering dia lihat di Youtube. Gue yakin, sebagian besar dari kalian ngerti video macam apa yang ditonton dan ditiru sama keponakan gue itu.

Gue jadi nyadar, dulu zaman muda, gue suka bikin tulisan-tulisan yang cenderung joke-nya jorok. Sering juga ditegur sama sohib gue Benakribo. Tapi waktu itu gak gue gubris. Karena gue belum liat efek nyatanya. Melihat apa yang terjadi ama keponakan gue itu, gue jadi nyadar, ternyata karya seorang idola bisa sebegitu mempengaruhinya.

Memang, zaman sudah berbeda, anak-anak sekarang banyak yang tidak lagi mengikuti anime, lagu anak, maupun sinetron lagi. Banyak yang menghabiskan waktu dan kuotanya untuk nonton Youtube. Sehingga, sifat anak-anak zaman sekarang jelas berbeda dengan sifat anak-anak generasi sebelumnya.

Bagi anak 90an, mereka bangga dengan masa kecilnya yang indah, penuh dengan lagu anak-anak dan acara anak-anak di TV. Bagi generasi 2000an, sudah banyak dipergunjingkan karena sifat mereka yang mengikuti sinetron-sinetron dan acara musik yang hostnya ngondek dan konon "tidak mendidik".


Hingga akhirnya, di 2010 ke atas, beberapa orang mulai melakukan gerakan perlawanan atas acara-acara TV yang kurang mendidik dengan cara membuat konten sendiri via Youtube, yang konon lebih mendidik.

Pada awalnya, Youtube dan Vimeo memang sebuah media yang sangat menghibur dan mendidik di mata gue sebagai user biasa. Namun dengan naiknya popularitas Youtube karena mulai lancarnya internet Indonesia dan Smartphone yang bisa mengakses Youtube semakin terjangkau harganya, akhirnya Youtube menjadi pisau bermata dua.

Youtube bisa menjadi platform yang penuh ilmu, namun juga bisa menjadi platform yang penuh dengan penyakit. Tergantung konten macam apa yang sering dinikmati oleh penontonnya. Dari video-video kucing giting, sampe tutorial menciptakan bom pun ada di sana. Nah, kalo yang nonton orang yang sudah dewasa pola pikirnya, dia kemungkinan besar bisa menyaring isinya. Kalo yang nonton anak-anak? Mereka tidak akan bisa menyaring apa yang mereka lihat, tanpa peran orang tua.

Youtube lebih dari TV?

Makes sense... Tapi hal itu berlaku untuk segmen A & B, dan mungkin sebagian segmen C+. Di mana segmen-segmen itu cukup mampu untuk memiliki gadget yang support Youtube & beli kuota internet yang cukup gendut dan biasanya tinggal di daerah perkotaan atau suburban yang jaringan internetnya nggak mengenaskan. Tapi bagi sebagian segmen C & D, terutama di daerah-daerah yang jaringan internetnya masih GPRS, mereka masih menikmati acara-acara TV.

Dan inget, manula, ibu-ibu, bapak-bapak, masih lebih suka nonton Tukang Bubur Masuk ISIS dibanding nonton web-series. Jadi, kalo dibilang Youtube lebih dari TV sih, gue pikir belum. Segmen penonton TV masih lebih luas dibanding pengguna Youtube di Indonesia, mengingat jumlah rakyat miskin di negeri ini masih luar biasa. Yah, memang tak menutup kemungkinan, Penonton Youtube semakin bertambah, dan penikmat TV semakin berkurang di masa depan.

Menurut survey yang pernah gue baca, tahun 2013, Indonesia termasuk dalam sekitar 20% pengguna Youtube dunia. Gak heran, kita emang udah masuk ke taraf kecanduan internet. Berbagai sosial media kita coba. Gak percaya? Gue yakin ada yang punya ID Path, Facebook, Twitter, IG, Line, secara bersama-sama. Tenang.. Gue juga. Dan angka 20% ini gue yakin akan membesar terus ke depannya. Betapa mengerikan kalau nantinya Youtube benar-benar lebih dari TV, namun kualitas kontennya lebih rusak dari TV? Kebayang gak, kalau sampai smartphone kelak jatuh di tangan orang-orang yang tidak smart? Ditambah lagi, penonton Youtube Indonesia mayoritas adalah ABG dan remaja. Gak percaya? Liat aja Youtube Fan Fest taun kemarin. Banyakan yang dateng anak SMP dan SMA. Ngeri loh anak-anak usia mencari jati diri ini kalo sampe tersesat oleh info yang salah.

Oke.. Udah ngalor ngidul gak jelas, sebenernya gue mau ngomongin apa?

Gini.. Gue cuma mau mengajak semua pihak, baik itu content creator di Youtube ataupun penikmat Youtube untuk menyiapkan diri atas migrasi pengguna TV ke Youtube di masa depan.

Bagi para creator, marilah kita pahami bahwa Youtube adalah platform yang sangat mudah diakses oleh siapapun dengan gadget mereka. Untuk itu, mari kita ciptakan konten yang proper agar bisa dinikmati oleh segmen yang tepat sasarannya. I know, sebagian dari creators mungkin mikir, "Gue bebas berekspresi di akun gue sendiri dong! Kenapa diatur-atur?"

Oke.. Setuju, tapi tolong kembali diingat, kita main Youtube itu berawal dari keresahan kita akan acara-acara di TV yang tak mendidik, kan? Jangan sampai kita mengulangi kekurangan TV yang pernah kita sebalkan ini di Youtube. Yang artinya, kita gagal memperbaiki apa-apa. Kalopun mau mengupload konten-konten yang vulgar, tolong.. Tolong banget seenggaknya kasih Warning bahwa konten itu bukan buat bocah. Lebih baik lagi, kalo lo set video itu dengan fitur "age-restriction". Sehingga video itu gak bisa ditonton bocah-bocah yang belum cukup umur. Ada kok menunya di Advanced setting Video Manager Youtube.

Fitur itu akan memaksa orang yang mau nonton video vulgar untuk login dan diverifikasi usianya. Kalo gak cukup umur, display ini bakal nongol.

 

I know, bocah-bocah itu bisa memalsukan usianya untuk tetap menikmati video itu. Tapi, at least, kita udah menunjukkan bahwa kita tidak berusaha menyesatkan mereka dengan konten yang tak sesuai dengan usianya. Sisanya, adalah tanggung jawab orang tua. 

Jadi, marilah kita kembali ke semangat awal kita, 

"Acara TV gak ada yang mendidik? Lalu, sudahkan konten Youtube kita mendidik?"

Yah.. Gue tau, mendidik anak orang bukanlah kewajiban kita. Tapi gue sangat berharap, kalopun kita gak bisa mendidik, setidaknya janganlah merusak anak orang deh. Apa kita siap, jika suatu saat anak kita yang masih balita, kalimat pertamanya adalah "I don't give a f*ck, b*tch"?

Untuk para orang tua, gue lihat banyak yang bebasin anak main gadget, nonton Youtube, yang penting gak rewel. Please. Jangan secuek itu. Orang tua harus memperhatikan dan mendampingi anak-anak saat menikmati konten apapun di dunia internet. Jangan sampai anak-anak menikmati konten yang tidak tepat usia.



Gue sarankan, bagi para orang tua untuk menginstall Youtube Kids/Kids Videos for Youtube di mana isinya adalah konten-konten pilihan dari Youtube yang memang untuk anak-anak. Sehingga, anak-anak bisa tumbuh dengan wajar, tanpa mengikuti hal-hal kurang baik yang mereka anggap keren. Gue yakin, gak ada orang tua yang mau anaknya bikin bom sendiri dan meledakkan kandang ayam tetangga.

Atau, kalo masih tetep mau pake aplikasi native Youtube, pakai cara lain untuk mengarahkan konten-konten yang layak ditonton anak-anak. Dalam waktu senggang orang tua, pilihlah konten-konten anak-anak di Youtube, lalu klik menu Safe Offline. Lalu, saat anak-anak memegang gadget, pastikan gadget itu berada di Airplane Mode, sehingga mereka hanya bisa mengakses video-video yang sudah anda pilihkan sebelumnya, tanpa bisa nyasar ke video-video orang dewasa.

Gue ngomong gini karena resah banget. Beberapa minggu yang lalu, ada beberapa video film dewasa Korea yang isinya semi bokep di halaman "Trending" Youtube. Di mana, siapapun bisa nonton, tanpa perlu login. Termasuk adik lo, anak lo, ponakan lo, bisa ngebokep semua. Ini creator yang upload videonya terkutuk! Mau banget Youtube beneran diblock dari Indonesia karena meresahkan? Lalu kita terpaksa nonton acara-acara yang dipilih pemerintah doang?

Yap.. That's all I can say on this post. Maaf, jempol udah pegal ngetik. Soalnya ini gue ngepost dari hape. Semoga postingan ini bermanfaat dan bisa membuat kita semua sadar, bahwa teknologi gak cuma harus diikuti, tapi juga diwaspadai. Ingat, tulisan ini adalah sebuah ajakan, bukan pemaksaan, maupun perlawanan. The choice is yours. I ain't a saint. I did mistakes as well. Yet at least I try to make things better than yesterday. Would you do it too?

Buat yang mau liat konten-konten Youtube gue, silakan subscribe channel gue yah! Isinya webseries belajar bahasa Inggris, MotoVLog tentang sepeda motor custom, gadget/apps review, cerita bergambar yang inspiratif, dan DIY mainan-mainan hobby:


*tetep promo* *fakir subscribers*

Oiyah.. Lo ada pengalaman efek Youtube buat anak-anak kecil di sekitar lo? Tulis di kolom komentar ya! :)
Read More

Monday, May 30, 2016

// // Leave a Comment

Tipe-tipe Teman Yang Pasti Akan Pernah Kamu Temui Dalam Hidup

 


Eyang gue pernah bilang,

"Di belakang orang sukses, akan selalu ada tiga pihak: Pembenci, Pendukung, dan Penjilat."

Dulu gue nggak  ngerti maksud eyang gue itu apa, tapi setelah gue berkarier, akhirnya gue mampu memahaminya.

Selama 17 tahun gue hidup di dunia, dari zaman masih orok hingga jadi pria tampan nan dewasa seperti sekarang, gue sudah menemukan berbagai bentuk karakter manusia. Tak bisa dipungkiri, mereka juga turut andil dalam membentuk karakter gue hingga jadi kayak begini. Nah, setelah gue analisa secara lebih mendalam, akhirnya gue bisa mengklasifikasikan beberapa tipe teman yang pernah sekedar mampir dalam hidup, atau masih eksis mengisi hidup gue.

Pembenci (Hater)
Buat sebagian orang, haters itu akan dianggep sebagai musuh. Tapi buat gue, haters itu tetep masuk ke dalam daftar teman. Teman yang cukup penting, malah. Kenapa? Karena haters adalah orang yang tak lelah mencari-cari kekurangan gue untuk dijadikan bahan hujatan. Nah, kalo dalam proses pembuatan website atau aplikasi developer aja harus bayar orang buat nyari "bugs" (masalah dalam coding web/aplikasinya), ini gue punya orang-orang yang dengan suka rela mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya cuma buat nyari "bugs" di diri gue. Hal itu membuat gue berkesimpulan bahwa, haters adalah teman yang paling tulus.

Namun, ada haters yang gue kurang suka. Yaitu haters yang nggak ngasih tau kekurangan gue apa, tapi cuma ngata-ngatain aja. Biasanya haters semacam ini, gue temuin tiap pagi lagi ngaduk-ngaduk tempat sampah, atau nguras septic-tank.


Pendukung
Ini adalah tipe teman yang mungkin paling gue butuhin. Soalnya, gue adalah tipikal orang yang nggak bisa ditinggalin sendiri. Soalnya gue suka ngobrol. Apapun masalah yang gue hadapi, bisa tuntas atau minimal berkurang bebannya kalo udah ngobrol.

Teman yang supportif, bukan sportif, adalah tipe teman yang dibutuhkan oleh siapa saja. Dia bisa menemani kita, menjadi winger kita, membantu memecahkan masalah kita, atau setidaknya selalu siap minjemin telinga.

Namun, gue juga nggak suka teman yang terlalu supportif, di mana dia bakal selalu bela gue, gak peduli gue bener atau salah. Membela seseorang cuma dengan alasan solidaritas itu kadang tidak tepat. Kita tidak perlu memusuhi orang, cuma karena teman kita memusuhinya. Kita gak perlu membela teman, di saat teman kita yang membuat kesalahan. Solidaritas yang kebablasan itu adalah dorongan bagi orang-orang pengecut yang suka membuat masalah, untuk diselesaikan secara keroyokan.

Penjilat
Ini adalah tipe teman paling menakutkan. Tipe penjilat atau orang bermuka dua ini sebaiknya berteman dengan orang yang suka cari muka. Biar imbang jadinya.

Kenapa gue bilang teman penjilat itu paling menakutkan? Soalnya, teman yang suka menjilat kadang membuat kita terlena dengan segala kata dan sikap baiknya. Sehingga kita menjadi sangat percaya kepadanya. Lalu kita menitipkan masalah-masalah pribadi kepadanya. Namun endingnya masalah itu menyebar ke mana-mana.

Teman penjilat, selalu bermotivasi untuk membuat hidup kita tak lagi menyenangkan, dan mengambil sebanyak mungkin keuntungan. Di depan kita, dia akan ngomong dengan segala kelembutan, di belakang kita dia akan menyebarkan kebencian.

Teman Sekedar Kenal
Ini adalah tipe teman yang sekarang paling banyak jumlahnya. Di dunia internet ini, kita sering balapan jumlah friendlist maupun followers di sosmed. Sehingga kita merasa punya banyak teman, padahal itu semua cuma angka.

Teman ala kadarnya di sosial media ini tak akan memberikan banyak efek di kehidupan nyata. Tak akan menjenguk kita saat sedang diopname. Tak akan datang ke rumah saat kita merayakan ulang tahun. Tak akan melayat saat keluarga kita berkabung. Karena semua mereka wakilkan dengan komentar "GWS, HBD, dan Emoticon Frowned."

Teman yang seperti ini, membuat kehidupan tak bisa lepas dari belenggu sepi. Tak ada ikatan empati, maupun ikatan hati. Makanya, nggak perlu banyak-banyakan teman yang tak bisa benar-benar diajak silaturahmi. Mereka ada atau gak ada, hidup kita nggak akan terlalu terpengaruhi.

Yak.. Itu sedikit curahan hati gue mengenai pertemanan. Semoga bisa mewakili isi hati kalian juga. This is the end of the post. Thanks for reading.

Btw, lo paling banyak punya tipe teman yang kayak apa?
Read More

Wednesday, May 27, 2015

// // Leave a Comment

Tukang Hutang Yang Model Begini Harus Dimusnahkan Dari Bumi

Katanya, orang pelit itu kuburannya sempit. Menurut gue, pelit atau nggak pelit, kuburannya mah bakal sempit. Paling ukurannya cuma 2x1 meter. Mana ada yang ukuran kuburannya 3 hektar dilengkapi dapur, kolam renang dan gym? 

Tapi meskipun gue nggak percaya mitos itu, gue juga tetep nggak mau jadi orang pelit. Setiap ada temen butuh bantuan, sebisa mungkin gue tolong. Karena gue percaya bahwa ada karma baik maupun karma buruk. Masalahnya, banyak orang yang abis dibantu malah lupa atau sok lupa. Seakan-akan mereka abis disrempet roket Rusia tepat di kepala, dan Amnesia.

Akhir-akhir ini gue gedeg banget. Gue pernah punya temen banyak. Kita sering barengan dalam suka duka. Nongkrong bareng, jalan bareng, atau bahkan nginep bareng-bareng. Tapi akhir-akhir ini, gue hampir nggak punya temen nongkrong lagi. Pada ke mana temen-temen gue? Pada kabur. Ngilang.

Kenapa mereka ngilang? Nggak.. Mereka nggak meninggal, atau sibuk nanem padi di gurun Sahara kok. Mereka ngilang setelah mereka ngutang. Iya, ada yang sengaja menjauh, ada yang sengaja menghilang sama sekali. Ntah karena malu nggak bisa bayar hutang, atau memang nggak mau bayar hutang. Hal ini yang bikin gue suka mendadak emosi kalo ada temen lain yang kesusahan terus bilang mau ngutang. Gue trauma, jangan-jangan abis gue pinjemin duit, dia juga ngilang? Gue udah kenyang dengan realita kehilangan teman gara-gara utang. Nyokap gue pernah bilang,

"Kalo temenmu meninggalkanmu setelah mereka ngutang ke kamu, artinya mereka menghargai pertemanan kalian dengan uang segitu. Nggak apa-apa kehilangan teman yang kayak gitu."

Emang sih, gapapa kehilangan temen yang brengsek. Tapi punya temen-temen brengsek, kadang terasa lebih baik daripada nggak punya temen sama sekali. Hidup terasa sepi. :(

Oke, berdasarkan fakta-fakta yang udah gue alamin, gue mau sharing kepada kalian bagaimana etikanya orang yang punya hutang. Biar kalian nggak dicap sebagai makhluk yang nggak tau terima kasih maupun nggak bertanggung jawab, sebaiknya jangan sampai jadi tukang hutang yang begini:

Nggak Bayar
Minjem uang dan akhirnya dipinjemin pas butuh itu rasanya emang menyenangkan. Tapi sebagian orang lupa mengartikan hal itu. Mereka salah mengartikan antara "dipinjemin" dan "dikasih". Jadinya, pas mereka udah punya duit, mereka nggak kepikiran buat balikin uang yang mereka pinjem.

Dan yang paling sering kejadian, orang suka lupa mereka ngutang kalo cara mereka minjem adalah dengan kalimat, "Tolong beliin pake duit lo dulu ya~"

Hayo.. Siapa yang pernah ngelakuin hal serupa? :p

Nggak Ngabarin
Sebenernya gue adalah tipe orang yang nggak bakal rewel pas temen ngutang duit. Gue nggak bakal ngejar-ngejar atau nagih-nagih. Tapi dengan catatan, orangnya rajin ngabarin kalo dia belum mampu balikin duitnya. Dengan mengakui hal itu, gue bisa narik kesimpulan bahwa dia masih inget akan hutangnya. Gue masih bisa mempercayai dia.


Nah, kalo orangnya nggak pernah ngabarin atau sok lupa dengan hutangnya, tentu bikin gue khawatir dong. Kalo gue ingetin, gue dikira nagih. Tapi kalo nggak diingetin, orangnya juga melanjutkan hidup dengan damai. Rasanya kayak pengin bikinin tattoo di jidatnya bertuliskan, "Bayar utang lo ya!"

Apa sih susahnya bilang, "Hey bro.. Maaf ya, harusnya hari ini aku bayar hutang, tapi ternyata belum ada uangnya. Aku janji, minggu depan aku bayar ya~"?

Kalimat sesimpel itu kalo diucapin sebelum ditagih/diingetin, udah cukup membuat si pemilik uang ngerasa tenang kok. Karena kalimat itu menunjukkan kalo yang ngutang itu masih mengingat tanggung jawabnya kepada si pemilik uang.

Tetep Bisa Pamer
Pernah nggak, lo ngalamin punya temen yang ngutang ke elo, tiap ditagih dia bilang belum punya, tapi ternyata dia upload foto-foto belanjaannya di sosial media? 


Gue juga pernah ngalamin hal serupa. Pas dia pamer belanjaannya di Facebook, gue screenshoot chat dia yang berisi permohonan maaf karena belum bisa bayar hutang, terus gue upload ke kolom komentarnya. Endingnya gue di-unfriend.

Mbok orang kalo masih ngerasa punya hutang ke orang tuh hormatin orang yang udah bantuin to. Kalopun belum niat balikin, ya jangan pamer-pamer lah. Jangan jadi makhluk bermuka dua, melas-melas pas ditagih, tapi tetep rajin belanja dengan gigih. Kok bisa sih, bangga mamerin harta hasil nipu orang-orang yang sudah memberikan kepercayaannya?

Lebih Galak
Wajarnya, orang yang minjemin duit itu harusnya lebih tegas kepada orang yang minjem. Soalnya orang yang minjemin itu punya hak untuk menuntut tanggung jawab dari si peminjam. Tapi pada prakteknya, banyak peminjam yang lebih galak daripada si pemilik uang pas ditagih. Mulai dari kalimat, "Lo kok perhitungan banget sih?! Temen macam apa lo?!"

Sampai kalimat, "EMANG GUE PUNYA UTANG YA? KAPAN? MANA BUKTINYA? JANGAN FITNAH LO YA! GUE LAPORIN POLISI NIH!"

Makhluk kayak gini sebaiknya dikubur di liang lahat dengan ukuran 50cm x 50cm posisi kayang.

Ngilang
Ini tipe tukang hutang yang paling menyebalkan buat gue. Modus mereka: Deketin-> Baikin -> Ngutang -> Kabur -> Nyari temen lain -> Baikin -> Ngutang -> Kabur -> Gitu terus siklusnya sampai ISIS bikin markas di Bulan.

Tipe tukang ngutang yang kayak gini bener-bener bikin gue takut untuk berteman, dan takut buat bantuin temen yang butuh duit lagi. Gara-gara orang yang kayak gini, gue selalu suudzon tiap ada temen bilang butuh duit. Jadi, tiap ada temen bilang mau ngutang, gue nganggep itu adalah cara pamitan mereka. Soalnya yang sering kejadian, kalo pas mau ngutang mereka tuh ngemis-ngemis sepenuh hati, tapi abis dihutangi mereka bakal ngilang ditelan bumi.

Saran gue buat kalian yang punya temen semacam ini, sadarin aja mereka. Jangan ragu buat nagih hak lo. Mulai dari cara yang baik-baik, dengan ngomong pelan-pelan dari hati ke hati. Kalo mereka nggak mau beritikad baik juga, pake jalan yang rese juga gapapa. Kan itu pilihan mereka sendiri. Tagih di sosial media, di chat, di kolom komentar, tagih pas ketemu, tagih via pengumuman radio, bebas. Kadang untuk mengalahkan orang yang rese, kita harus lebih rese. :p


Tapi berkat orang-orang yang kayak gini, gue jadi belajar. Saat ada temen mau ngutang, gue nggak bakal ngasih uang dengan jumlah sesuai permintaannya. Gue bakal ngasih uang dengan jumlah yang bisa gue ikhlasin kalo nggak balik aja. Jadinya kalo pun tuh orang nggak balikin duitnya gue nggak nyesek-nyesek amat, dan silaturahmi tetep terjaga karena gue nggak dicap pelit.

Buat yang suka ngutang dan rese, inget ye.. Kalo lo suka nunda hak orang lain, Tuhan juga nggak bakal segan-segan buat nunda hak lo untuk berbahagia. Sekali lo pernah ngecewain orang yang mau bantuin elo, jangan nyesel kalo lain kali dia nggak mau bantuin lo lagi meski lo dapet musibah yang lebih ngeri. Soalnya kepercayaan itu kayak tulang angkle, sekali pernah cidera, nggak bisa pulih seperti semula. Lagian kenapa sih, lebih milih hidup dengan penuh rasa sungkan, khawatir, dan takut ketemu orang karena banyak hutang demi kesenangan sesaat doang? Please remember..

Karma is a bitch. It would force you to pay, after you have enough fun!

Yap.. Itu aja uneg-uneg gue sekarang. Makasih udah nyempetin waktu berharganya buat baca tulisan ini. Kalo kalian pernah ngalamin hal serupa sama tukang hutang rese, silakan share di kolom komentar ya!
Read More

Tuesday, May 19, 2015

// // Leave a Comment

Hal-hal Norak Yang Mungkin Sering Lo Lakuin Karena Belum Mengerti

Selama 17 tahun gue lahir dan hidup di Indonesia, gue udah makan asam garam dan asam lambung kehidupan di negeri ini. Indonesia adalah negeri yang indah, tapi sayang sebagian penduduknya masih suka melakukan hal yang (ntah sengaja atau tidak) norak dan berujung merugikan orang lain. Terutama orang-orang yang ususnya cuma 3 centimeter, alias nggak sabaran.

Jadi, hari ini gue bakal sharing tentang beberapa hal norak yang sering dilakuin oleh orang-orang pada saat menggunakan fasilitas umum. Apa aja contohnya? Here they are:

Norak di Lift
Lo sering nongkrong di mall? Mallnya ada 800 lantai? Lift adalah pilihan yang oke buat pindah dari lantai ke lantai. Soalnya kalo mau pakai tangga dari lantai dasar ke lantai 800, dijamin sampai ujung sana lo bakal kena hernia. Testis pindah ke mata kaki. Tapi, taukah bahwa penggunaan lift itu ada aturannya juga? Jadi gini, gue sering ngalamin, mencet tombol lift, terus nunggu liftnya tiba, begitu liftnya tiba, ternyata di dalam udah penuh manusia. Gue pun nggak ikut masuk karena udah nggak muat lagi. Hal itu gue ulang tiga kali, dan hasilnya selalu sama. Lift-penuh-gue-nggak-bisa-masuk. Gue bingung, kok lift sesak mulu kayak angkot ngejar setoran gini?

Nah, setelah gue coba perhatiin secara lebih detail, gue berada di lantai basement (lantai paling bawah dari gedung itu), dan lift yang dateng itu adalah lift dari lantai atas. Tapi begitu nyampe lantai basement, nggak ada pengguna lift yang turun. Nah.. Ketauan deh penyakitnya~ Dipastikan ada beberapa orang norak yang pengin pergi ke lantai atas pakai lift, tapi ikut turun dulu. Efeknya apa? Ya calon pemakai lift yang di lantai bawahnya, malah nggak kebagian tempat. Orang-orang ini ngira Lift itu semacam bus AKAP apa ya? Mereka harus ikut mampir di setiap terminal.


Ya, etika naik lift itu simpel. Kalo tujuan lo mau ke lantai atas, jangan masuk lift dulu pas liftnya lagi jalan turun. Kalo lo ikut turun juga, lo bakal bikin orang yang pengin turun malah nggak kebagian tempat. So, perhatiin arah panah di display liftnya ya. Kalo lo mau turun, jangan masuk lift yang panahnya mengarah ke atas. Jangan norak~

Juga diingat etika lain dalam penggunaan Lift adalah, biarkan yang mau turun keluar dulu. Jangan buru-buru masuk, kasian kan yang mau turun kalo lo dorong masuk lagi gara-gara lo buru-buru. Jadinya dia gagal turun, terus ngikut liftnya jalan lagi deh. Mengenaskan.

Selain lift, eskalator sebenernya juga ada etika penggunaannya. Saat kita berdiri di eskalator, dan kita nggak sedang buru-buru, berdirilah di sisi kiri eskalator. Sisain sisi kanan lo. Jangan berdiri di tengah-tengah, atau tiduran di eskalator karena rasanya enak kayak naik gondola. Nanti kamu ditangkep satpam, terus digoreng loh. Kenapa kita sebaiknya berdiri di sisi kiri eskalator? Biar orang yang sedang buru-buru bisa jalan ngelewatin sisi kanan kita itu. Nah.. Sekarang udah paham kan? Nggak boleh norak lagi deh.

Norak di ATM
Gue juga pernah pengin ngambil duit gocap doang dari ATM karena itu sisa duit yang gue punya buat makan. Tapi begitu sampai di ATM, ternyata antreannya lumayan panjang, kurang lebih 4 orang berdiri di depan mesin ATM. Ternyata di situ ada 5 mesin ATM, 2 mesin tarik tunai, 1 mesin setoran tunai, dan 2 mesin non-tunai. Tapi mesin tarik tunainya rusak 1. Praktis tersisa 1 mesin tarik tunai yang bisa dipakai.


Nah, gue berdiri kurang lebih 10 menit di antrean mesin ATM tarik tunai, tapi nggak gerak-gerak. Gue penasaran, ibu-ibu yang paling depan itu sebenernya lagi ngapain? Apa dia lupa PIN ATMnya? Atau dia lagi main game Zuma? Atau dia lagi nonton sinetron Ganteng-ganteng Serigala di layar ATMnya?

Selidik punya selidik, ternyata ibu-ibu itu make mesin ATM bukan buat narik duit, melainkan lagi bayar tagihan-tagihan rumah tangga dan transfer sana-sini. Ini adalah contoh orang punya duit, tapi kelakuannya norak. Bank menyediakan mesin ATM beberapa jenis itu tentu ada tujuannya. Yang pengin setor uang tunai tapi malas ketemu teller bank, pakai mesin setor tunai. Yang pengin narik uang tunai, pakai mesin yang tarikan tunai. Yang pengin beli pulsa, bayar listrik, bayar kartu kredit, transfer uang ke berondong, pake mesin ATM non-tunai.

Kalo penggunaannya salah, efeknya ngerugiin orang kayak ibu-ibu di depan gue itu. Ada 2 mesin non-tunai nganggur di sebelahnya, tapi dia make mesin tarik tunai buat transfer-transfer. Itu adalah hal norak. Jangan ditiru.

Nyerobot Antrean
Malem minggu kemarin gue dateng ke kondangan nikahan kakaknya Bena bareng temen gue namanya Tyo. Pas gue lagi ngantre nungguin giliran gue ngisi buku tamu, tiba-tiba ada ibu-ibu berdiri di samping gue. Gue selaw aja ngeliat ibu-ibu itu tiba-tiba nongol. Terus beberapa saat kemudian, disusul ibu-ibu lain berdiri di belakang ibu-ibu itu. Di belakang gue nggak ada orang. Nah, pas giliran gue mau ngisi buku tamu, tiba-tiba ibu-ibu yang berdiri di samping gue tadi ngambil pulpennya duluan. Gue diemin aja, sabar. Gue nyadar dia ngelakuin semua hal dengan buru-buru karena dia tau sisa waktunya di dunia tinggal dikit. Rasa toleransi gue mendadak membesar setelah mengingat fakta itu.

Kelar ibu-ibu itu ngisi buku tamu, eh... ibu-ibu yang di belakangnya gantian ngambil pulpen. Sedangkan gue? Gue dianggap apa dari tadi berdiri di situ? Dikira gue ini cetakan tumpeng apa gimana? Pas gue masih diem nahan bete ngeliat kelakuan ibu-ibu itu, Tyo yang udah dari tadi kelar ngisi buku tamu, manggil dari kejauhan.

"Yuk Litt.. Masuk!"

Gue pun ngejawab dengan lumayan kencang dan ketus, "Bentar ya Yo.. Gue ngantre dari tadi, tapi diserobotin mulu. Maklum, pada nggak diajarin ngantre di sekolah nih!"

Mendengar jawaban gue, Tyo menahan tawa dan ibu-ibu yang berdiri di sekitar gue cuma membuang muka seakan-akan gue itu adalah roh halus yang ucapannya tidak bisa mereka dengarkan.

So guys, antre adalah sebuah sistem yang diciptakan oleh makhluk beradab agar tercipta sebuah ketertiban dan keadilan dalam sebuah kegiatan. Tujuan dari mengantre adalah membuat orang yang datang duluan, mendapatkan haknya duluan, yang datang belakangan, mendapatkan haknya belakangan juga. Jadi, semua orang mendapatkan haknya secara adil juga. Nah, nyerobot antrean orang itu sama aja ngerebut hak orang lain. Itu adalah perbuatan jahat dan norak. Kalo hak sekecil itu aja lo tergiur buat ngerebut, gimana Tuhan mau mercayain lo buat nerima hak yang lebih besar?

Norak di Jalan
Lalu lintas di Indonesia menurut gue adalah lalu lintas yang paling kacau sedunia setelah India. Bedanya, di India, yang lewat nggak cuma kendaraan bermotor yang dinaikin cabe-cabean, tapi ada sapi yang sering lewat juga. Di India, sapi lewat harus dikasih jalan, lebih istimewa daripada ambulan. Makanya kalo ada sapi nyeberang, kendaraan langsung pada berhenti. Begitu ada sapi tidur di jalan, macet pun terjadi.

Ngelihat kepadatan jalan dan kemacetan yang luar biasa adalah hal yang lumrah. Kepadatan jalan dan kemacetan itu bukanlah hal yang bisa dihindari apabila jumlah kendaraannya emang jauh lebih besar dibandingkan kapasitas jalan yang disediakan.

Tapi yang lebih menyebalkan dari kemacetan adalah orang-orang norak di jalan yang memperparah kemacetan itu sendiri. Contohnya yang kayak apa? Banyak!

Berenti di lajur kiri pas lampu merah adalah salah satu contoh kelakuan norak orang yang memperparah kemacetan. Harusnya saat berhenti di lampu merah, lajur kiri yang ada tandanya "Belok kiri jalan terus" nggak boleh diisi lagi. Biar apa? Biar orang yang mau belok kiri bisa melanjutkan perjalanan, bukan ikut ngantre lampu merah. Kalo orang-orang yang pengin belok kiri ketutup jalannya, ya akhirnya kemacetan semakin parah dong ya.

Berenti di lajur lawan saat menunggu di perlintasan kereta juga menjadi hal norak yang sering dilakukan orang Indonesia. Logikanya gini deh, kalo para pengendara di seberang kiri dan kanan sama-sama menuhin jalan dan saling ngisi juga jalur lawan, apa pas palang penyeberangan kereta dibuka, mau pada saling tubruk-tubrukan? Mbok ya kepala itu diisi nutrisi otak yang cukup, jangan diisi semen to.

Dan pengguna jalan norak yang paling gue sebelin adalah yang berikut ini, orang yang nggak mau ngeliat lampu sein orang lain. Sering banget gue lagi nyetir, terus mau belok kiri, gue nyalain lampu sein kiri. Pas mobil gue udah lumayan miring kiri, tau-tau ada motor ngeduluin gue dari kiri!! IYA!! DARI KIRI!!

SAPI BALET! BADAK NGONDEK! BERUANG PUBER! SINGA ALAY! Kan gue jadi kaget! APA ORANG ITU NGGAK DIAJARIN KALO KITA NGGAK BOLEH NGEDULUIN DARI KIRI? APALAGI NGEDULUIN DARI KIRI, ORANG YANG MAU BELOK KIRI?! Orang yang kayak gini, gue harap dihalalkan buat digiles lehernya pas di jalan raya. Amin.

Sayangnya, di Indonesia, siapa yang galak dialah yang benar. Atau, siapa yang ngerasa lebih miskin, dialah yang menang. Misal gue nabrak pemotor yang ngeduluin gue dari kiri, gue yang bakal disuruh bayar ganti rugi dan ngobatin karena gue pake mobil. Iya, yang dianggap kaya, disuruh tanggung jawab meskipun yang salah yang mengaku miskin. Hukum jalan yang aneh ini sering dimanfaatin orang-orang norak.

Nah, itu aja dulu SEBAGIAN dari hal-hal norak yang sering gue liat di sekitar. Gue harap elo nggak ngelakuin hal-hal itu. Kalopun elo lakuin itu karena nggak tau, sekarang kan elo udah tau, jadi semoga elo bisa jadi pribadi yang lebih baik saat menggunakan fasilitas umum. Kalo bersedia, boleh bagikan postingan ini di sosial media, biar orang-orang yang belum tau, bisa nyadar juga.

Sekian postingan gue hari ini. Kalo elo ada pengalaman lain tentang orang-orang norak saat menggunakan fasilitas umum, silakan share di kolom komentar ya!

Ciao!

Read More

Sunday, April 26, 2015

// // Leave a Comment

Kamu Termasuk Pengguna Path Yang Begini, Nggak?

Internet itu rasanya kayak toko serba ada. Segala yang kita butuhkan udah disediain di sana. Yang pengin belanja, disediain toko online. Yang butuh teman, disediain aplikasi chatting. Yang bosen hidup, disediain situs bokep.

Nah, sosial media adalah aplikasi penampung curhatan yang paling laris di jagad internet. Memang gokil sih.. Ada yang bilang, orang Amrik punya facebook, Whatsapp, Instagram, Orang Korea punya Kakaotalk, Orang Jepang punya Line, dan Orang Indonesia punya waktu buat make semua aplikasi itu. Taun ini, sosial media yang digunain orang udah sangat bervariasi. Padahal zaman gue STM dulu, kalo mau update status paling ditulis di meja kelas pake tipe-x. Atau kalo mau bikin profil, biasanya kita tukeran diary sama temen, lalu tulis profil dari nama, TTL, Hobi, MaFa, MiFa, dan Testimoni tentang si pemilik diary. Anak 2000an nggak bakal ngerti konsep sosial media offline ini. :p

Zaman sekarang, yang doyan curhatnya dibaca banyak orang, pake Twitter. Pecundang yang cuma berani ngomongin orang dari belakang, pake Secret. Yang pengin sok eksklusif, pake Path. Nah, ngomongin Path ini, ada beberapa hal yang membuat gue gatel buat bahas. Soalnya perkembangan Path di Indonesia, mulai mengenaskan. Setelah gue analisa bareng tim yang gue bentuk bersama adik-adik murid TK Salero Bundo, akhirnya gue nemuin beberapa tipe pengguna Path yang membuat Path menjadi sosial media yang meleset dari konsep awalnya.

Berteman dengan orang asing
Kalo dilihat dari misi awalnya, Path adalah sosial media dengan konsep penyedia perlindungan privasi bagi para usernya. Dengan pembatasan jumlah teman yang (awalnya) cuma 180 orang doang, Path berharap para user bisa berteman dengan orang-orang terdekat doang. Dengan begitu, mereka tau bahwa apa yang mereka bagikan di Path hanya akan dibaca oleh orang-orang terdekat, so privasi mereka bisa terjaga.

Memang benar, pernah ada riset yang membuktikan bahwa rata-rata manusia cuma bisa mengingat 180 nama teman terdekat saja. Dengan konsep semacam itu, Path mengharapkan user bisa dengan bebas mengatakan apa yang ada di dalam pikiran mereka dan akan dilihat oleh orang-orang "terpilih" yang ada di friendlist mereka. Tapi sayang, Path sudah "mengkhianati" konsep itu karena sekarang limitnya udah diperbesar jadi 500 teman. 500 teman di Path, tapi pas situ opname, yang ngejenguk cuma temen sekampung doang. Temen-temen di Path cuma bilang "GWS yaw!", lalu kembali melanjutkan hidup. Ironis.

Tapi anehnya, meskipun niat awal orang main Path adalah agar dapet private area, akhir-akhir ini gue sering nemu komentar di moment pertemanan baru orang yang bertuliskan, "Makasih udah di-approve, salam kenal eah.." Hal itu ngingetin gue zaman facebook menjamur dulu, di mana orang-orang malah balapan banyak-banyakan teman. Yang endingnya mereka malah kenal sama orang baru, lalu jatuh cinta, terus ketemuan, diculik dan dijual ginjalnya.

Efek nerima sembarang orang di friendlist Path ini banyak negatifnya loh. Meskipun emang ada (sedikit) efek positifnya, seperti bisa dapet teman baru misalnya. Salah satu efek negatif selain diculik, atau dipacarin secara online dan diporotin lalu di-unfriend, yang paling sering terjadi adalah, apapun curhatan yang dirasa sangat pribadi dan "dipercayakan" di Path, akhirnya malah di-screenshoot teman-tak-pengertian di Path dan disebar di sosial media lain. Sehingga orang awam yang tidak kenal si pembuat status itu pun mulai nge-judge seenak biji mereka. Masih ingat kasus Florence? Nah.. Sekarang dia masih menjalani proses hukum gara-gara update status di Path setahunan yang lalu. Piye perasaanmu?

Yang lebih aneh lagi, Path kan mengunggulkan privasi. Tapi kok ya, update statusnya pada di-link ke twitter atau social media lain. Privasi macam apa ini? :)))

Media pamer
Selama 2 taun gue make Path, ini yang paling sering gue temuin. Kebanyakan yang di-share SEBAGIAN orang di Path adalah hal-hal yang bisa dikategorikan dalam jenis show-off. Seperti misalnya, upload foto abis beli hape baru, foto motor baru, foto selfie pas ibadah.

Nemu di TL @dewahoya

Tapi nggak aneh juga sih, toh kalo diperhatiin fitur-fitur status update yang disediain Path emang rata-rata BISA buat pamer kan? Misal:

- GeoTagging -> Bisa pamer check-in di tempat-tempat keren.
- Foto/video upload -> Bisa buat pamer foto barang-barang wow yang dimiliki atau dipinjem atau poto milik orang lain buat diaku-akuin.
- Movie/book/music -> Bisa buat pamer film/buku keren apa yang dibaca, dan bisa buat curcol via NowPlaying.
- Sleep/Wake up -> Ini fitur yang menurut gue nggak penting kalo nggak ada "With"-nya.

Kenapa gue bilang banyakan yang pamer di situ? Abisan, jarang atau hampir nggak pernah gue liat ada yang update status pake daster lagi ngepel, OOTD-nya pake kaos gratisan dari partai dan celana kolor layaknya busana sehari-hari mereka yang sebenarnya, atau lagi nyangkul di sawah. Rata-rata pada update foto/check-in di tempat fitness, hotel mewah, atau lagi piknik ke markas ISIS. Sepengalaman gue, hidup mereka (yang suka pamer) ini terlalu indah kalo diliat dari update-annya. Padahal pas ketemu di dunia nyata, nggak se-wah itu tuh. Orangnya masih sering minjem duit buat beli bensin.

Tapi sebagai manusia, wajar kok nunjukin pencapaian. Gue juga kadang kayak gitu. Yang penting adalah jaga frekuensinya. Kalo setiap kali update tujuannya cuma buat nunjukin barang mewah apa yang dipunya ya, nggak enak diliat juga. Whenever you are using social media, please stop trying too hard to impress, please use it to express. Lebih baik lagi kalo sering dipake untuk hal yang berguna atau berbagi pengetahuan, kan?

Yang Cakep Yang Istimewa, Yang Jelek Teraniaya
Sebenernya ini juga berlaku di instagram. Kalo muka lo pas-pasan, nyoba bikin video atau foto yang wow dengan segala skill tingkat tinggi yang lo punya, terus lo upload di Path, paling yang nge-love 1 sampai 10 orang. Tapi sekalinya ada cewek cantiiik yang upload foto selfie tanpa make-up meskipun dengan caption "Belum cebok", yang nge-love pasti bakal lebih banyak dibanding jumlah friends-nya. Itulah salah satu hukum rimba internet. Yang cakep yang berkuasa. Hayo.. Siapa yang suka nge-love-nya pilih-pilih berdasarkan tampang updaternya? :p

Cuma Buat Lucu-lucuan Aja
Emang bener, banyak hal viral di social media diukur dari penyebarannya di Path.  Tapi sayangnya, makin viral sebuah joke, biasanya makin over-used juga. Kadang dalam sehari ada lebih dari 10 orang yang nge-repath meme joke yang sama. Kan eneg.

Dunia Harus Tau
Gaji turun, update status. Lagi meriang, update status. Berak encer, diupload. Orang kayak gini menurut gue bikin gerah juga di segala tipe sosial media, nggak cuma Path. Gue ngerti sih, mungkin kadang dia ngerasa penting, tapi belum tentu orang lain mikir dia sepenting itu. Nggak semua masalah kita, orang lain wajib tau kita lagi ngapain kok. Semakin tinggi frekuensi kita update di sosial media, sebenernya malah makin nunjukin bahwa kita kesepian di dunia nyata. No one to share with in the real life. So sad. Cry.


Kalo kita sembarangan nyebarin uneg-uneg di sosial media, bisa kena risiko uneg-uneg itu kesebar di seluruh dunia loh. Yah, kayak mbak Florence itu, niatnya kan cuma uneg-uneg pasif-agresif yang niatnya nggak buat dibaca semua orang. Makanya, lebih hati-hati saat bercerita di dunia maya ya. Terutama kalo berantem sama cewek, jangan pake aplikasi chatting, itu ntar ujung-ujungnya yang baca argumen lo bukan cuma dia, tapi temen-temennya dapet screenshootnya juga. Jangan juga berjanji hal yang terlalu besar ke cewek via chat, nanti ditagih pake history chat. :p

Nah, itu beberapa tipe pengguna Path yang kurang disukai dari hasil analisa gue. Jujur-jujuran aja, lo termasuk tipe yang mana aja? Gue sih kadang masih suka curhat nggak penting soal susah boker atau curhat biar dapet makan gratis. Btw, kalo tipe lo nggak ada di poin yang udah gue sebutin, silakan jelasin di kolom komentar ya! Ciao!
Read More

Saturday, April 11, 2015

// // Leave a Comment

Bedanya Hubungan Jadul dan Sekarang

Kemarin gue lagi nongkrong, tiba-tiba dipamerin sama Supri sebuah foto cewek cantik banget.

"Gimana menurut lo? Cantik nggak? Hehehe.." Ucap Supri sambil menyodorkan layar hapenya ke muka gue.

Gue pun segera cebok, menyiram kloset, lalu bangkit. "Mayan.."

Supri segera menggeser layar hapenya, lalu muncul lagi foto cewek yang lebih cantik. "Kalo yang ini gimana?"

"Oke lah.. Lo kenapa deh? Dari tadi nawarin foto-foto cewek mulu, kayak mucikari." Gue tinggalin Supri yang masih duduk di depan kloset sambil megangin hape. Sesaat kemudian dia nyusulin gue.

"Tenang Boy.. Ini semua pacarku! Hahaha!" 

"Boong! Kok gue gak pernah liat kalian jalan?!"

"Soalnya kami LDR-an, Boy.. Cewek yang satu ini tinggal di Jerman, sedangkan yang satunya, di Lebanon."

"Apa gunanya pacaran, kalo nggak pernah ketemuan? Gandengan? Pelukan? Guling-gulingan?"

"Yang penting punya deh.. Dua pula! Hahahaha!" Supri pergi ninggalin gue dengan ekspresi menghina. Gue terdiam, lalu berjalan kembali ke jamban.

Dalam kesehariannya, sejak punya dua pacar ini, Supri jadi sering nunduk-nunduk megangin hape. Senyum-senyum, kadang ketawa, kadang nangis sambil megangin hape. Kabar terakhir, Supri dibawa ke rumah Ustadz Guntur Bumi karena dikira kesurupan oleh ortunya.

Nah, ngomongin fenomena pacaran di dunia maya ini, bikin gue inget tentang cara manusia berhubungan zaman dulu (pra-internet) dan zaman sekarang (pasca-internet), serta kualitas hubungan di masing-masing zaman. Gue ngerasa beruntung bisa hidup di dua zaman yang sangat berbeda ini.


Kenalan
Zaman pra-internet, berkenalan dengan orang asing itu perlu perjuangan yang nyata. Karena satu-satunya cara buat kenalan dengan orang asing adalah dengan cara nyamperin, lalu memperkenalkan diri. Kalo dia welcome, bisa lanjut ngobrol. Kalo dia jutek, bisa langsung pulang dan jilatin Baygon bakar.

Sedangkan di zaman pasca-internet ini, mau kenalan sama orang baru mah gampang. Tinggal kirim pesan via media sosial/aplikasi chat juga bisa. Kalo dia welcome ya syukur, kalo dia nggak welcome ya udah. Iya, sesimpel itu.

Judgement
Zaman dulu, kita bisa menebak sifat orang dari penampilannya atau kesehariannya. Sedangkan di zaman internet ini, kita bisa menebak sifat orang dari isi status updatenya.

Hal itu membuat orang akhirnya berlomba-lomba menciptakan pencitraan diri yang mereka mau dengan internet. Yang pengin keliatan pinter, sering ngetwit soal rumus-rumus matematika. Yang pengin keliatan fashionable, sering upload foto-foto dengan pakaian yang trendy. Yang pengin keliatan perkasa, sering upload foto adu kepala sama banteng.

Nah, karena orang bisa jadi apapun di internet, banyak juga yang akhirnya terjebak oleh pencitraan yang diciptakan di internet. Terutama pencitraan yang jauh berbeda dibanding aslinya di dunia nyata.

Komunikasi
Di zaman internet seperti sekarang, komunikasi memang semudah menjentikkan jari. Mau ngomong sama orang, tinggal kirim pesan via chat, telpon, atau kirim email. Misal temen lo ngambek gara-gara lo makan betis adiknya hidup-hidup, lo cukup kirim chat bertuliskan permintaan maaf dengan emoticon paling memelas yang lo punya dengan jumlah lebih dari sepuluh emoticon, dijamin hatinya bisa luluh.

Sedangkan zaman pra-internet? Semua masih manual. Buat minta maaf, kita harus bener-bener usaha buat nemuin orang yang mau kita mintain maaf. Misal mau ngajak temen buat jalan? Ya kudu ngetok rumah dia, nanya ke ibunya anaknya ada atau nggak, baru deh bisa ngajak main. Kalo zaman sekarang? Kirim chat, janjian ketemuan di mana kek, nggak perlu nyamperin ke rumahnya. Karena janjiannya semudah itu, ingkarnya juga semudah itu. Tinggal chat bilang batal ketemu karena sapinya telat mens kek, atau rumahnya dibawa keong kabur, kek. Kelar.

Effort
Ini mungkin mirip dengan poin komunikasi di atas. Zaman pra-internet dan pasca-internet membuat orang melakukan usaha yang sangat berbeda dalam berhubungan. Zaman sekarang, karena dimudahkan oleh internet, orang-orang malah jadi effortless. Karena mudahnya komunikasi, efeknya juga mempermudah orang buat berbohong, modus, maupun menipu.

Contohnya untuk PDKT, zaman dulu tuh kalo mau ngedeketin cewek, cowok harus rajin ngajak ketemu, rajin ngajak ngobrol, rajin bawain bunga. Iya, segala perhatian cowok kepada gebetannya terlihat nyata. Sedangkan zaman sekarang, untuk terlihat perhatian, cowok-cowok tinggal kirim chat, "Lagi apa? Udah makan belum? Jangan lupa makan, nanti kamu busung lapar." basi! Dengan effort kayak gitu, akhirnya sebuah hubungan terasa jauh lebih berarti. Nggak cuma berantem-> putus-> cari ganti.

Makanya, tanpa bantuan teknologi, orang yang tulus sayangnya itu bakal kelihatan usahanya. Kalo memang benar-benar cinta, cowok berani datengin rumah gebetannya meski diinterogasi bokap gebetannya. Demi cinta, cowok harus bisa ngajakin makan, bukan cuma ngingetin makan. Karena sayang, cowok harus bisa jengukin dan nemenin gebetannya yang sakit sampai sembuh, daripada cuma ngucapin "GWS" via chat doang.

Zaman pra-internet, mau ngegebet banyak cewek secara bersamaan, bakal susah. Soalnya kalopun nggak ketemuan, misal komunikasi via SMS-an, juga bakal bikin bangkrut. Tarif SMS zaman dulu Rp.350/SMS. Kalo modusin 10 cewek dengan jumlah 100 SMS/hari duit pulsanya cukup buat kredit mobil pribadi. Sedangkan zaman internet sekarang, modusin 10 cewek via chat, pulsa 50 ribu/bulan juga cukup kan?

Hal seperti itu nggak cuma berlaku di dalam hubungan pacaran. Di hubungan pertemanan juga berlaku hal yang sama. Zaman belum ada internet, gue bisa tau jam sekian, biasanya anak-anak nongkrong di mana. Selain karena kebiasaan, tapi juga karena ikatan emosi yang tercipta antar teman. Kalo temen sakit, ya dijengukin. Kalo temen ultah, ya disamperin. Kalo temen kedinginan ya dibakar.

Kesimpulan dari bahasan ini adalah, internet sudah dengan mudah menyatukan manusia dengan manusia lain yang awalnya asing. Internet juga sudah membuat manusia berkomunikasi dengan sangat mudah. Internet sudah menghemat banyak waktu untuk berkomunikasi. Tapi sayang secara kualitas, hubungan yang dipupuk oleh internet tidak sekuat hubungan yang didukung oleh usaha yang nyata.

Selingkuh di zaman internet sangatlah mudah, tinggal chat sana-sini gonta-ganti. Sedangkan tanpa internet, selingkuh itu kayak tubuh harus dibagi, agar bisa merhatiin pacar yang di sana dan di sini. Mendadak gue kangen jamannya belom ada HP, di mana kalo mau PDKT kudu mau usaha ngajak ketemuan, gak cuma modus massal di chat. 

Intinya, segala yang tercipta secara instant, biasanya usianya juga instant. Waspada dengan orang-orang di internet ya.. Terutama orang yang bisa bilang kangen, sayang, cinta, di saat belum pernah ketemu aslinya. Btw, kapan terakhir lo berani ngajak kenalan orang asing dengan cara nyamperin dan ngajak ngobrol langsung tanpa dibantuin teman/internet? :p
Read More